Memilih TK, SD, SMP di Jepang

Seperti biasa, saya, teman-teman lab, dan sensei-sensei kami biasanya makan siang bersama di cafetaria kampus. Sensei yang bergabung biasanya ada 3 termasuk sensei senior yang merupakan pembimbing saya. Sambil makan bersama biasanya kami mengisinya dengan obrolan ringan. Obrolan itu biasanya berisi obrolan ngalor ngidul dengan berbagai tema hangat ataupun tema kehidupan sehari-hari. Sering tema indonesia dan islam mjd salah satu tema utama.

Kemarin tema obrolan kami tentang anak-anak para sensei kami lalu menyenggol masalah pendidikannya, cara memilih TK, SD sampai nyangkut masalah pemilihan lokasi rumah baru. Salah satu sensei kami baru pindah rumah  dan kebetulan kemarin yg gabung adalah para sensei muda yang anaknya masih balita.

Di jepang untuk sekolah negeri, asal daerah murid yang bisa diterima dibatasi. Hanya dari daerah tertentu yang dekat dengan sekolah negeri itu. Tentu saja hal ini tidak berlaku di sekolah swasta. Lalu, biasanya anak jepang akan masuk TK, SD dan SMP pada satu kompleks sekolah tertentu mengikuti teman-temannya. Biasanya jalinan pertemanan yang kuat menjadi alasan utama mereka memilih SD-SMP yg sama satu sama lain.

Proses yang berkelanjutan ini rupanya disadari oleh sensei kami. Dia sangat teliti memilih sebelum menjatuhkan pilihan sekolah bagi anaknya dengan mengumpulkan berbagai gosip dan info yg ada tentang sekolah-sekolah yang bakal menjadi tempat penggemblengan anaknya. Hal ini menjadi alasan mengapa menurutnya walau TK, sangat penting memilih TK yang terbaik bagi anaknya.

Lalu, hal apa yang menjadi pertimbangan utama dalam memilih sekolah yang bahkan mempengaruhi dia dalam memilih lokasi yang dekat dengan sekolah tersebut. Rupanya pertimbangan pergaulan dan perhatian guru terhadap murid menjadi pertimbangan utama.

Bagaimana karakter teman-temannya, apakah ada kenakalan, dan  lain-lain sangat mjd perhatiannya. Sensei tersebut takut anaknya terjerumus masuk dalam lingkungan pergaulan yang tidak baik. Sensei tersebut juga menaruh perhatian terhadap bagaimana tingkat perhatian guru terhadap muridnya. Apakah guru-guru di sekolah tersebut benar-benar serius mendidik murid-muridnya. Apakah mereka memperhatikan perkembangan murid-muridnya satu persatu. Senseiku lebih memilih sekolah yang jumlah muridnya lebih sedikit.

Pertanyaan menggelitik aku sampaikan. Mempertimbangkan kecenderungan orang-orang indonesia yang kebanyakan (termasuk aku mungkin) yang lebih memilih sekolah favorit atau sekolah dengan prestasi yang gemilang, aku bertanya apakah sensei tersebut tidak mempertimbangkan prestasi dari (murid) sekolah yg akan dipilih. Jawabannya cuman santai aja. Kalau nanti ingin anaknya bisa masuk sekolah atau universitas yang terbaik, ia akan memasukkan ke tempat les terbaik. Lumayan masuk akal.

Dari obrolan itu, aku sadar bahwa sensei saya sangat menaruh perhatian dengan perkembangan karakter, kejiwaan, dan pribadi anaknya. Menarik karena anak bakal lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah dan di tempat main bersama teman-temannya. Memang jarang sekali orang tua di jepang yg punya waktu bersama dengan anaknya termasuk mungkin senseiku ini. Pertimbangan pemilihan TK, SD, SMP yang terbaik yang benar-benar menganggap penting perhatian dan usaha dalam membentuk kepribadian dan karakter siswanya ia masukkan sebagai salah satu pertimbangan utama dalam memilih lokasi rumah.

Bagaimana dengan orang tua orang tua jepang lainnya? Bagaimana juga dengan sekolah-sekolah jepang dalam mempromosikan kualitas sekolahnya? Oh ya, saya jarang sekali mendengar olimpiade-olimpiade fisika, matematika dan mata pelajaran lainnya di sini.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s