Salju, Tokyo dan Aku

Untuk kesekian kalinya hari ini di tokyo salju turun. Saya sangat senang. Saya tidak benci salju. Saya suka. Saya senang memandangi saat pertama kali butir salju turun terus lama kelamaan menjadi bunga bunga salju yang menghiasi udara langit tokyo. Ketika salju turun dengan lebatnya permukaan tanah, rumah, lapangan, jalan2 serta semua semak pepohonan ditutupi tumpukan salju. ibarat tokyo semalam suntuk disulap sang dewi malam menjadi lautan tepung putih.
Kehadiran salju tidak hanya membawa keindahan dan kecerian warga tokyo. Tebalnya salju di landasan pesawat sempat menunda jadwal penerbangan beberapa pesawat. Beberapa jadwal kereta sempat juga dicancel yang menyebabkan antrian dan penumpukan penumpang di stasiun-stasiun dan kepadatan yang luar biasa di dalam kereta. Saya sempat mengalami sendiri. Begitu padat seolah olah ada sebuah perjuangan besar untuk mengambil satu nafas. Salju yang mulai mencair di jalan-jalan membuat kondisi jalan begitu licin yang memaksa para pemakai jalan harus ekstra hati-hati dalam berjalan dan mengendarai kendaraannya. Keberadaan salju telah memperlambat aktivitas warga tokyo paling tidak selama 15 menit.
(saya membutuhkan waktu 20 menit lebih untuk berjalan ke stasiun dari 15 menit saat kondisi biasa belum lagi harus berjalan 4 kali, pulang pergi asrama-stasiun dan pulang pergi stasiun-sekolah).
Kondisi penumpukan penumpang kereta di stasiun-stasiun dan kepadatan luar biasa di dalam kereta memang bukan hal yang jarang terjadi di kota tokyo ini. selain karena salju kadang juga keterlambatan karena kasus bunuh diri, badai atau sebab lainnya. Pada kondisi tersebut sejauh yang saya alami, setiap perusahaan kereta telah memilik prosedur penanganannya sendiri-sendiri. Bahkan mereka telah memiliki prosedur bersama saat salah satu jalur kereta mengalami delay untuk mencegah penumpukan penumpang pada salah satu stasiun utama tempat pindah kereta.
Saat kondisi penumpang padat di dalam kereta petugas kereta akan menginstruksikan agar penumpang bersabar dan membuka jendela lebar-lebar untuk pertukaran udara serta mengingatkan agar berhati-hati saat pintu kereta dibuka dan ditutup. Petugas stasiun juga menyarankan penumpang lewat wireless pengeras suara agar menggunakan kereta lokal yang lebih sedikit penumpangnya.
Perusahaan kereta juga telah paham betul dengan kondisi padat tersebut yang rawan dengan kekacauan. Bisa dilihat dari jumlah petugas yang lebih banyak dari hari-hari biasa saat kondisi seperti itu. Kemudian, apabila salah satu jalur mengalami keterlambatan maka jalur lain yang berhubungan langsung akan menyesuaikan jadwalnya untuk mengurangi penumpukan penumpang pada salah satu stasiun. Kadang penyesuaian jadwal ini baru selesai saat hari telah siang. Surat tanda keterlambatan juga selalu sudah tersedia.

Saat saya berjuang menjaga keseimbangan tubuhku di antara himpitan penduduk tokyo di dalam salah satu gerbong kereta Odakyu saya membaca tanpa sengaja email di dalam handphone yang sedang diketik oleh seorang perempuan jepang. Kira-kira bunyinya begini, “lancar sampai Yoyogi-Uehara, mulai saat ini adalah pertarungan “. Wow..saya surprise membacanya.

Memang sih perjalanan pulang pergi bekerja atau sekolah memakai kereta di tokyo adalah sesuatu yang sangat keras, penuh perjuangan dan sangat melelahkan sehingga tak jarang ada penumpang yang harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, kalau menganggapnya itu sebagai sebuah pertarungan adalah sesuatu yang di luar pikiran saya. Bahkan hal itu diekspresikan dari seorang perempuan. Atau mungkin aku saja yang belum paham betul dengan budaya keras mereka.

Namun, terlepas dari perjalanan naik kereta adalah sebuah pertarungan atau bukan, hampir tak ada suara protes atau keributan di antara penumpang maupun antara penumpang dengan petugas stasiun walau mereka harus saling sikut dan dorong untuk sekedar menghela nafas. Sebuah keteraturan yang luar biasa atau sebuah perwujudan sikap saling tenggang rasa yang nyata saya tidak tahu pasti. Atau mereka sudah bosan dan menganggap itu tidak ada gunanya untuk protes atau perang mulut karena hanya akan membawa masalah dan menghambat jadwal-jadwal mereka selanjutnya. Apapun itu saya kagum pada mereka, kepada penumpang kepada petugas stasiun juga. Tetap semangat ya para petugas kereta.

ah…bunga-bunga salju yang beterbangan. Kau memang tetap indah bagaimanapun saya memandangnya. Terima kasih telah menemani saya di bulan januari dan februari ini.

One comment

  1. 1. Hud, paragrafnya dipisah2 dong. Terlalu panjang, capek baca. Klo bisa sih 1 paragraf paling panjang 10 baris. Supaya yang baca bisa ambil nafas dulu.

    2. Pisahin paragraf nya per ide. Aku agak kaget pas kamu cerita soal keindahan salju tiba2 loncat soal hal negatifnya.

    3. penjelasan dalam kurung jadiin satu alinea baru aja.

    4. Selamat yah, udah mulai menulis dengan runtut. Daftar ke FLP Jepang gih, banyak yang bantu ngasih koreksi, kritik, masukan, saran, de es be. hehe

    -hoho kritik mulu-

    “wah makasih banyak mas atas sarannya. udah aku edit dikit. semoga lebih baik.
    masuk FLP Jepang ya, makasih deh. Ini cuman untuk konsumsi pribadi dan [menurutku] sangat amat tidak pantas di sebut sebagai sebuah artikel, sastra atau bacaan umum ^^”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s