Mundurnya PM Fukuda

)* Maaf saya selah dengan berita mengejutkan ini

http://www.nhk.or.jp/news/t10013845801000.html#

http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/7591969.stm

Habis tarawih tadi saya begitu terkejut membaca email dan status YM salah satu teman saya yang mengungkapkan keterkejutan akan mundurnya pertama menteri Jepang Yasuo Fukuda. Itu begitu membuat surprise karena baru sebulan yang lalu PM fukuda merombak kabinetnya. Belum genap 2 bulan mungkin sejak pertemuan G8 yang sempat dihadiri juga oleh Presiden SBY. Waktu itu pertemuan tersebut sedikit memberi gambaran saya kalau kabinet yang dipimpin oleh PM yang merupakan ketua organisasi Indonesia Jepang ini sedikit terangkat pamornya karena kesuksesan penyelenggaraan Pertemuan G8 tersebut yang menitikberatkan pada pembahasan masalah pemanasan atmosfer bumi. Sungguh suatu keputusan yang mengejutkan publik maupun dunia perpolitikkan jepang jepang tentunya.

Saya tadi sempat menyaksikan secara langsung lewat TV pidato mundurnya PM Fukuda yang disampaikan secara langsung dan live. Belum genap 1 tahun umur pemerintahan PM yang dianggap sebagai salah satu senior dalan dunia perpolitikan jepang ini akhirnya harus berakhir dengan keputusan yang berat. Tidak jauh berbeda dengan keputusan Pendahulunya PM Abe yang mundur di tengah kebuntuan dalam menyelesaikan masalah pencatatan dana pensiun, korupsi yang membuat salah satu perdana menterinya bunuh diri, serta permasalahan keterlibatan Jepang dalam perang di Afganistan lewat pengisian bahan bakar pada kapal induk Amerika yang ditentang habis-habisan oleh pihak oposisi. Sungguh mengejutkan dan publik Jepang lewat beberapa wawancara dari berbagai kota tadi menganggap 2 perdana menteri ini tidak bertanggung jawab.

PM Fukuda sendiri tadi menyatakan ini sebagai keputusan terbaik setelah mempertimbangkan dengan masak-masak. Dia berpikir bahwa akan lebih baik kalau Jepang dipimpin oleh orang lain dengan formasi baru yang tentunya berbeda dan lebih baik dari dia dalam mengatasi berbagai gejolak dan masalah yang membelit Jepang seperti masalah pencatatan dana pensiun, kontroversi skema asuransi kesehatan, keterlibatan dlm perang afganistan, kenaikan harga sebagai imbas dari kenaikan harga minyak dunia, pajak jalan tol dll. Yang sulit dipecahkan salah satunya penguasaan partai oposisi pada majelis tinggi. Bahkan sempat terjadi debat yang keras antara kedua PM Fukuda dan senator Ozawa dari partai oposisi.

Saya melihat bahwa politik di Jepang(dan juga di Amerika) ini sangat berbeda sekali dengan di Indonesia dimana di Indonesia tiap orang berlomba-lomba menjadi presiden. Mereka sebagian besar hanya berpikir dulu bagaimana agar naik jabatan dulu tanpa menonjolkan pemikiran, gagasan dan solusi yang akan diambil atau dijalankan. Di negara-negara maju seperti jepang dan Amerika ada yang namanya debat publik. Kampanye yang menitikberatkan pada perang solusi dan pemikiran bukan perang simbol, ideologi, trah keluarga, massa, ketampanan, uang dan hal-hal lain yang tidak berarti bagi penyelesaian masalah bangsa.

Di jepang mereka tahu bahwa mengemban jabatan sebagai PM sangat berat. Mereka harus bertanggung jawab dengan masalah bangsa dan arah kemana Bangsa akan dibawa. Jadi jarang yang menyatakan diri atau berambisi pingin memangku jabatan Tinggi ini. Sungguh berat tanggung jawabnya bagi mereka. PM Fukuda sendiri menyatakan bahwa lebih baik saya mundur dan muncul formasi baru demi kehidupan masyarakat daripada kevakuman politik ini ini berjalan terus menerus dan ketidakcermatan kebijakan.

Saya sendiri mengawatirkan bagaimana dengan hubungan Indonesia Jepang dimana saat kepemimpinan perdana menteri Fukuda telah dicapai kemajuan-kemajuan lewat penandatangan EPA (khususnya jumlah beasiswa monbusho :D). Bulan lalu hubungan itu telah diwujudkan lewat kedatangan sekitar 200an calon perawat lansia dan RS di Jepang ini(saya menjadi salah satu penerjemah dalam upacara penyambutannya).

Di jepang sendiri pergantian kepemimpinan yang begitu tiba-tiba seperti ini tidak terlalu menimbulkan gejolak atau masalah yang berarti. Entah karena kurang sadarnya warga jepang atau rasa ga mau tau karena sibuk dengan masalah sendiri dan ini adalah masalah politik yang harus diselesaikan oleh para politikus yang ahlinya atau mereka berpikir bahwa masalah ini akan jauh lebih terselasaikan secara mengalir tanpa ikut campur tangan. Entahlah… Paling-paling muncul kebijakan baru dan lain sebagainya tanpa konflik di arus bawah atau masyarakat. Di jepang kalau PM mundur maka Parpol yang bertanggung jawab akan memilih penggantinya secara internal dari partai tersebut.

Andai Indonesia seperti ini. Mungkin lebih baik. Berharap Pemilu 2009 lebih cerdas, bertanggung jawab, jujur, aman dan adil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s