Month: December 2008

Arubaito di Jepang

Tak terasa sudah lebih dari tiga setengah tahun lamanya saya berada di jepang. Selama itu selain menunaikan tugas utama saya sebagai mahasiswa yaitu belajar, saya juga bekerja sampingan atau dalam istilah bahasa jepang biasa disebut arubaito, biasa disingkat dengan baito saja. Suka duka sebagai sebagai baitosei pun telah banyak saya rasakan. Mulai dari berdebat dengan bos di tempat baito sampai persahabatan dengan manajer tempat baito yang berlanjut sampai sekarang.
Bagi mahasiswa asing yang ingin baito mereka diwajibkan memiliki surat ijin yang dikeluarkan oleh kantor imigrasi yang disertai surat rekomendasi dari pihak universitas atau sekolah. Pada beberapa universitas maupun institusi pendidikan lain pengurusan surat ini bisa dilakukan melalui bagian yang mengurusi mahasiswa asing. Pengurusannya sangat mudah dan bisa diwakilkan. Saat masih belajar bahasa jepang saya baru diperbolehkan mengurus surat ini setelah berada di sini selama lebih dari 3 bulan. Selain itu, kemampuan bahasa Jepang mahasiswa tersebut juga menjadi pertimbangan bagi pihak sekolah maupun guru dalam memberikan surat rekomendasi. (more…)

Dari wedhus sampai Demokrasi

Kemarin status saya di yahoo messenger direspon oleh salah satu teman chatting saya. Yang akhirnya diskusi berlanjut sampai makhluk bernama demokrasi. Kita mempunyai konsep yang sama tentang tata cara pemilihan gubernur dan kepala daerah-kepala daerah di Indonesia. Saya menilai sistem demokrasi yang ada di Indonesia telah kebablasan atau keluar jalur.
Dua bulan lalu saat saya kembali ke Indonesia saya terkejut bahwa di daerah saya sekarang lurah atau kepala desa ditunjuk oleh camat. Saya menilai hal ini positif. Paling tidak tidak menambah proses pilkades yang sering menghabiskan uang ratusan juta dan kebanyakan yang dipilih cuman tong kosong berbunyi nyaring. Walaupun lurah atau kepala desa bukan dari daerah setempat saya yakin ia dipilih melalui pertimbangan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. (more…)