Dari wedhus sampai Demokrasi

Kemarin status saya di yahoo messenger direspon oleh salah satu teman chatting saya. Yang akhirnya diskusi berlanjut sampai makhluk bernama demokrasi. Kita mempunyai konsep yang sama tentang tata cara pemilihan gubernur dan kepala daerah-kepala daerah di Indonesia. Saya menilai sistem demokrasi yang ada di Indonesia telah kebablasan atau keluar jalur.
Dua bulan lalu saat saya kembali ke Indonesia saya terkejut bahwa di daerah saya sekarang lurah atau kepala desa ditunjuk oleh camat. Saya menilai hal ini positif. Paling tidak tidak menambah proses pilkades yang sering menghabiskan uang ratusan juta dan kebanyakan yang dipilih cuman tong kosong berbunyi nyaring. Walaupun lurah atau kepala desa bukan dari daerah setempat saya yakin ia dipilih melalui pertimbangan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
Mengenai pemilihan Walikota/Bupati kabupaten atau kotamadya saya masih setuju diadakan pemilihan umum. Saya sependapat bahwa pejabat yang paling berperan besar memajukan ekonomi suatu daerah dan mempunyai fungsi strategis sebagai pemimpin yang mempunyai daya jangkau organis ke masyarakat adalah walikota/Bupati. Peran Bupati/Walikota sangat besar sebagai kepanjangan tangan presiden dan wakil rakyat yang telah dipilih melalui pemilu. Perannya di lapangan sangat real, menyentuh sampai lapisan masyarakat terbawah dan satuan ekonomi, sosial, pertahanan dan keamanan.
Sebaliknya, saya tidak melihat adanya fungsi atau peran yang melekat pada gubernur. Ia tak lebih dari pejabat saja. Tak mempunyai fungsi atau peran strategis seperti halnya walikota/Bupati. Saya merasa (semoga tidak benar) keputusan gubernur dipilih secara langsung tak lebih dari politik bagi-bagi kekuasaan bagi mereka yang tak mendapat posisi di tingkat eksekutif pusat. Proses pemilihannya sendiri selalu menghabiskan dana puluhan milyar rupiah dan tak jarang menimbulkan korban jiwa yang tak perlu. Saya melihat ini tidak efektif.
Lalu apa hubungannya postingan saya ini dengan judul “wedhus”. Saya menceritakan kepada dia tentang semakin banyaknya jumlah kambing(wedhus) dan sapi yang dikorbanin oleh masjid jami di desaku. Jumlahnya mencapai 8 ekor sapi dan 35 ekor kambing. Jumlah tersebut kalau diuangkan mendekati angka 100 juta rupiah. Belum lagi ditambah dengan kambing-kambing dan sapi yang dijadiin di masjid Muhammadiyah, musholla dan sekolah-sekolah. Hal ini sangat ironis bila kita membandingkannya dengan kondisi masyarakat desa saya sendiri dimana kondisi gedhung sekolah yang sudah tua. Semakin banyaknya angka pengangguran dan lain-lain. Lalu dimana makna hari raya Kurban itu sendiri. Saya cukupkan di sini saja. terlalu panjang kalau dibahas.
Teman saya menganalogikan desa saya sebagai miniatur Indonesia dimana yang kaya semakin kaya dan bertambah jumlahnya dan yang miskin semakin tak tertolong dan banyak hingga menimbulkan banyak sekali gejolak sosial. 2015 Indonesia terpecah-pecah itu judul yang aku baca pada salah satu surat kabar online di Indonesia. Semoga tidak benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s