Berbagi Cinta

Sisi lain sebuah perang, penyerangan, pemberontakan atau apapun itu selalu menyisakkan korban-korban tak berdosa khususnya anak-anak dan wanita. Anak-anak kecil kehilangan Ayah, Bunda, saudara dan bahkan mungkin masa depan. Mereka yang belum cukup 10 tahun mengenal dunia ini terpaksa harus berjuang sendiri. Berjuang dimulai dari mengais sesuap nasi atau roti pengganjal perut. Berusaha menghibur diri di tengah reruntuhan dan bongkahan bangunan yang hancur. Mungkinkah mereka masih mempunyai mimpi atau paling tidak mengenal mimpi. Karena kasih sayang belaian ayah bunda mungkin telah mereka lupakan bersama hancurnya masa kecil mereka, hancurnya taman bermain mereka.  

 Sekali-kali bolehkan memposting artikel yang ditulis orang lain. Silakan semoga bermanfaat.

Bila diajak untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Mungkin berbagi dana, berbagi pakaian layak pakai, sembako dan susu atau berbagi makanan. Ya, semua jawaban biasanya dalam bentuk materi. Itu 
mungkin karena dikepala kita telah tertancap ide–ide materialistik yang sudah menglobal : mengukur segala sesuatunya dari materia dan kasat mata.

Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk materi.

Setiap tahun ayah angkat saya punya kebiasaan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim, kunjungan biasanya dilakukan di dua kali, yaitu awal Ramadhan dan akhir Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survei untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan ke dua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan Yang diperlukan.

Ketika berkunjung kesalah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu 
dengan seorang bocah manis dan lucu, Dia masih sekolah kelas nol 
besar.

“Siapa namamu, nak?” sapa ayah saya. 
“Nama saya nina, Om ,” jawabnya manja.
“Nina sudah punya sepatu baru?” tanya ayah saya. 
“Sudah, Om ,dikasih Abah (peminpin panti ). Nina juga sudah punya 
baju baru,” urai Nina. 
Kalau begitu Nina mau apa?” tanya ayah saya. 
“Nggak ah…… ntar Om marah,” jawab Nina. 
“Nggak sayang, Om nggak akan marah”, ayah saya menimpali. 
“Nggak ah…… ntar Om marah,” Nina mengulangi jawabannya. 

Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang 
mahal. Rasa keingintahuan ayah saya semakin menjadi. Maka dia dekati 
lagi Nina.

“Ayo, nak, katakan apayang kamu minta sayang,” pinta ayah saya. 
“Tapi janji, ya, Om tidak marah”, jawab Nina manja.
” Om janji tidak akan marah sayang ,” tegas ayah saya.
“Bener Om nggak akan marah?”sahut Nina agak ragu.

Ayah saya menganggukkan kepala. Nina menatap tajam wajah ayah saya. 
Sementara ayah saya berpikir, `Seberapa mahal sih yang bocah kecil 
ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah?’ 
Sambil tersenyum ayah saya mengatakan, “Ayo, nak, katakan, jangan 
takut, om tidak akan marah Nak.”

“Bener ya Om nggak akan marah?” ujar nina sambil terus menatap wajah 
ayah saya.

Sekali lagi ayah saya menganggukkan kepala. Dengan wajah berharap-
harap cemas, Nina mengajukan permintaannya, ” Mmmmm, boleh nggak mulai malam ini saya memanggil Om dengan panggilan Ayah? Nina sedih nggak punya ayah”

Mendengar jawaban itu, Ayah saya tak kuasa membendung air matany. 
Segera dia peluk Nina. ” Tentu, anakku……tentu anakku….. mulai hari 
ini Nina boleh memanggil Ayah, bukan Om.

Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata, ” 
Terimakasih ayah…terimakasih ayah.”

Hari itu adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia 
habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan 
Nina. 

Karena merasa belum memberikan sesuatu berbentuk material kepada 
Nina, sebelum pulang Ayah bertanya lagi pada Nina, ” Anakku sebelum 
lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu dana kakak-
kakakmu. Apa yang kamu minta nak?” 

” Kan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah,” jawab Nina.
” Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda. 
Otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih.” Jelas Ayah saya.

“Nanti kalau ayah datang sama ibu kesini, aku minta ayah bawa foto 
bareng yang ada ayah, ibu dana kakak-kakak Nina. Boleh kan, Ayah?”

Nina memohon sambil memegang tangan ayah saya. Tiba-tiba kaki ayah 
saya lunglai. Dia berlutut didepan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil 
bertanya, “Buat apa foto itu, nak?”

“Nina ingin tunjukan kepada sama temen-temen Nina di sekolah, ini 
foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak nina.”

Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah tak mau berpisah dengan 
gadis kecil yang menjadi guru kehidupannya dihari itu.

Terimakasih, Nina. Meski usiamu masih belia kau telah mengajarkan 
kepada kami tentang makna berbagi cinta.

Berbagilah cinta, maka kehidupan kita akan lebih bermakna.

Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan kita di dunia.

Penulis : Jamil Azzaini

*Artikel ini aku dapat dari milis yaaborbitpusat yang dikirim oleh saudara f41h pada hari Senin, 19 Januari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s