Perjalanan ke Kesennuma dan Ayukawa, 19-24 Maret 2011

Berikut sedikit catatan dan video yang saya ambil saat melakukan perjalanan ke Kesennuma dan Ayukawa, prefektur Miyagi, sekitar seminggu setelah tsunami dan krisis nuklir di Fukushima dimulai. Saya bertugas di sana selama seminggu.

Saya melakukan perjalanan kesana sebagai salah satu penerjemah untuk tim respon cepat penanggulangan bencana gabungan Basarnas, TNI, dan PMI yang dikirim pemerintah indonesia dalam rangka mendukung upaya penanggulangan bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang. Tim ini juga didukung oleh kementrian luar negeri jepang dimana salah satu stafnya ditugaskan menemani operasi tim. Tim ini diberangkatkan dari KBRI Tokyo oleh Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Muhammad Lutfi, dan ditugaskan di daerah bencana yang menjadi korban paling parah akibat tsunami di Kesennuma dan Ayukawa, prefektur Miyagi. Selain mengirim bantuan tim reaksi cepat ini, pemerintah Republik Indonesia juga mengirimkan bantuan selimut sebanyak 20 ribu buah dan juga sumbangan uang senilai 2 juta dollar.

Pada saat tim ini melakukan operasi di Kesennuma, Pemerintah setempat menyambut baik kedatangan seperti ditunjukkan oleh sikap pejabat walikota yang langsung mempermudah kerja tim lewat pemberian izin khusus untuk pengisian bahan bakar bensin darurat. Hal ini rupanya karena Duta Besar Indonesia sering berkunjung ke daerah Kesennuma menghadiri festival musim panas tahunan yang diadakan oleh pemerintah setempat. Seperti diketahui juga di kota pelabuhan yang terbakar sesaat setelah bencana gempa bumi dan tsunami ini banyak TKI indonesia yang tinggal dan bekerja sebagai ABK nelayan maupun magang di bidang perikanan.

Di daerah Ayukawa, kota Ishinomaki, tim Indonesia diperkirakan sebagai tim internasional pertama yang mencapai daerah bencana tersebut. Tim indonesia mencapai daerah tersebut pada hari pertama setelah semua jalur transportasi penghubung di daerah yang disebut sebagai setengah pulau itu diperbaiki. Saat tim ini melakukan operasi di daerah Ayukawa yang merupakan kota pelabuhan kecil belum nampak tanda-tanda tim internasional lain maupun media wartawan yang tiba. Balai kota Ayukawa dijadikan sebagai basecamp operasi. Tim Indonesia juga mendapatkan penghormatan khusus dan ramah tamah dari para tentara jepang yang bertugas di daerah tersebut saat Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Muhammad Lutfi, terjun langsung ke daerah Ayukawa tersebut. Sepanjang perjalanan para tentara jepang memberi hormat kepada bendara merah putih yang kami pasang di bagian depan atas mobil kami.

Pada saat awal perjalanan kami mau tidak mau harus menerobos daerah fukushima yang saat itu masih dalam periode puncak krisis nuklir. Asap putih maupun ledakan masih terpantau pada saat tersebut. Menurut salah satu anggota tim kami yang membawa alat portabel pengukur radiasi, saat kami berhenti di salah satu pemberhentian untuk mengisi bahan bakar, tercatat radiasi sebesar 5 microsievert. Daerah tersebut berjarak sekitar 50-60 km dari reaktor daiichi fukushima yang mengalami krisis. Sebagai catatan, saat kami berhenti di tempat peristirahatan di daerah utsunomiya, prefektur Tochigi tercatat radiasi sebesar 1-2 microsievert. Selama perjalanan di jalan tol pada arah berlawanan dari daerah Miyagi tampak sedikit sekali mobil maupun transportasi umum yang melintas. Lebih sering mobil pemadam kebakaran dan mobil polisi dan tentara beladiri jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s