Bertemu Ilmuwan-Ilmuwan Penerima Nobel

1475915273251

Alhamdulillah kemarin bisa mendengarkan secara langsung presentasi dari 3 ilmuwan besar di dunia dalam rangka peresmian institute baru di Tokyo Institute of Technology, Institute Innovative of Research tempat saya bekerja.

Profesor Hosono, salah satu kandidat utama penerima penghargaan nobel untuk penemuan superkonduktor berbasis metal besi hingga teknologi TFT, IGZO yang dipakai luas untuk pembuataan layar monitor, smartphone, maupun tablet. Beliau banyak menjelaskan kondisi nyata penelitian di Jepang. Perlunya tambahan dana penelitian dari pemerintah. Kalau tidak bisa, harus ditingkatkan kerja sama dengan swasta khususnya ntk memajukan penelitian dasar dan jangka panjang. Beliau menegaskan perlunya Universitas ini lebih terbuka dan menjadi pusat penelitian internasional untuk menjadi universitas top 10 dunia.

Professor Ohsumi, baru saja pemenang penghargaan nobel kedokteran untuk penelitiaannya tentang mekanisme penghancuran otomatis komponen sel yang sdh tua atau tidak dibutuhkan lagi. Menurut beliau, penghancuran komponen makhluk hidup sama pentingnya dengan proses sintesis komponen makhluk hidup. Beliau menemukan mekanisme dan gen yang mengatur sistem autophagy ini. Beliau orang yang lahir dan berjuang dari kemiskinan akibat kekalahan pada perang dunia kedua sehingga ibundanya meninggal akibat penyakit hingga sukses spt sekarang. Perjuangan tak kenal putus asa.

Profesor Shirakawa. Bidang beliau adalah konduktif polymer. Beliau ada pelopor penelitian dalam bidang tersebut saat pandangan umum menyatakan polimer tidak menghantarkan listrik atau isolator. Beliau lebih banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya kuliah di kampus ini. Sayang sekali saya tidak mengikuti keseluruhan presentasinya karena saya tinggal beribadah sholat. Tetapi, Alhamdulillah saya sempat berbincang dan tukar kartu nama dengan beliau. Beliau cerita pernah ke Jakarta dan Yogyakarta karena ingin mengunjungi candi Borobudur. Beliau sdh lama menjauhi dunia riset dan akademik sejak beliau pensiun.

Hampir seluruhnya sepakat kondisi dunia riset di Jepang sedang darurat. Mereka khawatir tidak akan ada lagi penerina Nobel dari Jepang. Sekarang saja secara kumulatif sudah tertinggal dari China. Prof. Hosono menyampaikan bila ini tidak ditangani, beberapa tahun kedepan akan kalah dengan Korea. Beberapa permasalahannya menurutnya, semakin sedikit mahasiswa yang melanjutkan ke S3, Profesor disibukkan dengan urusan administrasi, dana penelitian yang semakin kurang, kondisi yang tidak mendukung penelitian ilmiah dasar dan inovasi baru.

Saya sendiri merasakan dana penelitian di Jepang sangat besar. Saya melihat kesadaran penuh Jepang akan pentingnya penelitian dan inovasi untuk menyokong kemajuan mereka menghadapi penurunan jumlah penduduk dan tidak adanya sumber daya alam yang mereka miliki. Pentingnya IPTEK telah mendarah daging dalam denyut kehidupan mereka. Bagaimana dengan Indonesia?

Saya bersyukur sekarang banyak mahasiswa Indonesia kuliah di luar negeri di universitas-universitas top dunia. Di kampus ini sendiri lebih dari seratus mahasiswa Indonesia. Dengan di kelilingi para Ilmuwan dunia bukan tidak mungkin suatu saat nanti akan ada orang Indonesia alumni kampus ini yang akan menerima Nobel.

Atas: Profesor Ohsumi dan teman lab.
Bawah kiri: Prof. Shirakawa
Bawah kanan: Prof. Ohsumi dan Shirakawa. Momen langkah dua orang penerima Nobel bertemu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s