Seminar “Agama & Masyarakat (Jepang) Masa Kini”

Hari ini, 16 Agustus 2017 saya mengikuti seminar diskusi panel yang bertema “Agama & Masyarakat (Jepang) Masa Kini” yang diadakan oleh Liberal Art Institute, Tokyo Institute of Technology. Diskusi ini menghadirkan narasumber para Professor di kampus ini. Profesor Ueda (Ahli Peradaban dan Budaya), Profesor Akira Ikegami (Profesor tamu dan seorang jurnalis ternama di Jepang), Profesor Yumiyama (Ahli Agama), Profesor Nakajima (Ahli Ideologi Politik). Diskusi panel ini dipandu oleh Profesor Watanabe dari Taisho University, seorang editor.

Walaupun di tengah hujan yang mengguyur, banyak sekali peserta yang datang dan sepertinya ini di luar perkiraan panitia seperti yang kudengar sayup-sayup obrolan para staf. Tidak biasanya even di Jepang berjalan tidak sesuai rencana. Mungkin karena narasumber Ikegami sensei yang sudah terkenal di publik Jepang sebagai pemikir dan jurnalis. Akibatnya selain hall utama disediakan beberapa hall lain dengan live video untuk menampung para peserta yang sebagian besar para orang tua yang sudah berumur.

Saya ikut antri bersama peserta dan Alhamdulillah masih bisa mengikuti acara yang mulai sekitar satu jam telat. Panitia sepertinya ingin mengakomodasi semua peserta sehingga acara baru dimulai setelah semua peserta masuk ruangan.

Saya akan berusaha menceritakan sebagian isi materi yang disampaikan seminar tadi. Kemungkinan ada kesalahan atau tidak sesuai dengan yang disampaikan, saya mohon maaf itu semata-mata karena alasan kemampuan bahasa Jepang saya, daya ingat saya, dan atau pemahaman saya yang salah. Bagi yang menginginkan rekamannya bisa saya kirimkan, tentu masih mentah dalam bahasa Jepang.

Pemaparan awal oleh Profesor Nakajima yang menceritakan mengenai situasi dan kondisi sekitar tahun 1995 saat terjadi beberapa peristiwa penting seperti Bencana Alam di Daerah Kansai, Peristiwa Teror Gas Sarin di Jalur Kereta Bawah Tanah Tokyo, serta Permintaan Maaf PM Murayama mengenai Penjajahan Jepang di Negara-Negara Asia saat perang dunia ke-2.

Profesor Nakajima memaparkan suasana masyarakat Jepang saat itu dengan menceritakan beberapa buku yang populer atau menjadi best-seller saat itu. Ada yang mengatakan untuk mengetahui situasi masyarakat bisa dengan meneliti bacaan apa yang sedang populer pada saat tersebut.

Pertama Profesor Nakajima menceritakan mengenai buku karangan Masachi Oozawa. Isinya mengenai zaman ideal -> zaman fiksi -> zaman yang tidak mungkin. Pada tahun-tahun tersebut Jepang baru saja mengalami bubble saat ekonomi tumbuh selangit. Masyarakat sedang dimabuk situasi yang seperti di alam mimpi ibarat dunia di disney land. Hingga seolah-olah mereka merasakan realitas jauh dari realitas yang nyata.

Kedua diceritakan tentang komik karangan Kyoko Okazaki “River’s Edge”. Profesor Nakajima mencuplik dialog para tokoh yang sudah tidak merasakan rasa hidup lagi, tidak merasakan realitas lagi. Hidup atau sedang matipun mereka tidak tahu. Mereka baru tahu ketika melihat mayat manusia di samping sungai. Saat melihat mayat itu baru mereka punya keberanian dan merasakan hidup.

Butu ketiga adalah buku karangan Tsurumi yang berjudul “Manual Lengkap Bunuh Diri”. Keputus asaan terhadap hidup yang biasa-biasa aja. Orang Jepang lahir biasanya masuk SD, SMP, lalu sambil sekolah SMA mengikuti les untuk masuk Univ. Empat tahun kuliah mereka hanya senang-senang saja lalu dilanjutkan mencari tempat kerja. Masuk perusahaan lalu mereka menikah hingga mereka jadi kepala bagian lalu pensiun. 10-20 tahun setelah pensiun mereka mengerjakan hobby mereka lalu mati. Bagi orang jepang hanya seperti inilah kehidupan yang ideal. Hanya cuman seperti itu.

Buku yang populer tahun 1993 ini diikuti dengan banyaknya kasus bunuh diri tahun 1994. Sebagian masyarakat bahkan memprotes terbitnya buku ini dan meminta dilarang karena hal tersebut. Menurut Profesor Nakajima buku ini bukan untuk memberi panduan mengenai bunuh diri melainkan untuk menunjukan bahwa orang bunuh diri itu orang yang sangat lemah atau mereka yang putus asa.

Profesor Nakajima yang spesialis melakukan penelitian mengenai kelompok garis keras justru menunjukkan bahwa kehidupan yang nyaman dan makmur malah melahirkan ketidakpuasan, keputusasaan, maupun kebosanan. Hal ini lah yang mendorong sebagian para pelaku teror gas sarin yang notabene para mahasiswa cerdas dari kampus elit Jepang. Sebagian mempertanyakan makna hidup mereka yang begitu-gitu saja sehingga seolah-olah mereka tidak merasakan rasa hidup itu sendiri. Dikatakan justru saat mereka berperang atau melihat orang mati mereka baru merasakan hidup.

Kondisi seperti itu justru membuat mereka merasa sesak atau sengsara untuk hidup. Kehidupan sebagian masyarakat Jepang yang menyesakkan di tengah gelimpang harta. Kata kunci ‘hidup sesak’ ini dilanjutkan oleh Profesor Ikegami sebagai narasumber berikutnya

Ikegami Sensei langsung menceritakan tentang Fenomena IS yang terjadi di timur tengah yang menurutnya sebagian besar para petempurnya merupakan orang-orang yang hidupnya sesak di daerah asalnya. Ada yang sesak karena masalah hidup bertubi-tubi ataupun justru karena merasa bosan dengan hidup yang seperti itu saja. Sebagai contohnya mengenai kisah dua orang Jepang yang terbunuh oleh IS. Satu karena menderita dengan masalah kehidupan dan yang kedua karena berusaha menolong yang pertama.

Ikegami Sensei memandang orang-orang yang gabung IS justru sebagian besar tidak tahu apa itu jihad, tidak tahu apa itu negara Islam. Mereka pergi kesana hanya karena ingin mati atau ingin dikirim sebagai bomber bunuh diri. Sebagaian ingin berperang karena justru ingin merasakan rasa hidup, lari dari kehidupan yang monoton. Akhirnya, sebagian besar mereka tertipu dengan iming-iming kehidupan yang ideal dibawa naungan negara Islam. Semua itu sejak awal hanya kebohongan semata. Atau memang mereka yang ikut berperang di sana sejak awal memang ingin mati.

Ikegami menceritakan cerita lahirnya peperangan di timur tengah yang dimulai sejak konflik Amerika yang ingin mengusir Rusia di Afganistan dengan melatih para relawan muslim dari seluruh dunia. Salah satunya adalah Osama bin Ladin. Dilanjutkan dengan konflik Irak Iran, hingga peristiwa 9/11.

Ikegami juga menjelaskan bahwa orang Jepang merasa mungkin merasa senang dengan negaranya aman tapi beliau mengingatkan bahwa Jepang juga pernah menjadi negara yang penuh dengan ekstremis, penuh dengan tindakan teror. Ikegami menyatakan bahwa di Islam sendiri tidak ada yang namanya ideologi bunuh diri. Islam melarang. Ikegami menganalisa mungkin bom bunuh diri justru meniru para teroris Jepang seperti yang pernah dilakukan oleh Tentara Merah Jepang, militan komunis Jepang, yang melakukan teror tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di seluruh dunia.

Ikegami menceritakan kemiskinan, kesengsaraan hidup, dan ketidak adilan dunia lah yang melahirkan para teroris tersebut. Ikegami menceritakan dirinya yang bertemu beberapa kali dengan Dalai Lama, pemuka Budha di Tibet. Orang hidup tidak lepas dari sengsara karena penyakit, karena tua, dan kemiskinan. Hanya dengan percaya bahwa mereka akan hidup lagi dengan reinkarnasi dalam kehidupan yang akan datang lah diharapkan manusia bisa menjalani dan melalui kesengsaraan tersebut.

Ikegami sendiri walau menyebut dirinya seorang budha tetap sulit percaya dengan reinkarnasi. Reinkarnasi tidak dapat dijelaskan secara akal kata dia. Sebagai penengah dia beranggapan, tubuhnya yang nanti meninggal akan terurai menjadi atom-atom yang akan tetap ada di alam semesta yang mengambil peran dalam fungsi yang lain. Jadi, beliau percaya bahwa sisa-sisa atom dari tubuhnya akan tetap menyokong alam semesta dalam bentuk atau fungsi yang lain.

Narasumber ketiga yaitu Profesor Yumiyama menjelaskan periode sejak awal tahun 2000-an hingga akhir-akhir ini. Profesor Yumiyama memaparkan mengenai spiritualitas dalam masyarakat Jepang yang dihubungkan dengan kata kunci power spot atau tempat tempat keramat. Terakhir diulas mengenai maraknya barang-barang jimat dalam berbagai bentuk seperti bentuk kristal. Yumiyama sensei sendiri meneliti mengenai agama-agama baru, aliran cult di Jepang.

Yumiyama Sensei menyampaikan mengenai fenomena berkembangnya banyaknya semacam religiusitas yang bersifat pribadi maupun dalam kelompok kecil. Menurutnya spiritualitas berkembang sejak awal tahun 2000-an yang ditandai dengan adanya definisi mengenai “sehat” yang dikeluarkan WHO. WHO menyatakan bahwa manusia dikatakan sehat bila kondisi jasmani, rohani, dan lingkungan serta religiusitasnya dalam keadaan baik. Beliau menjelaskan spiritualitas menjadi populer lewat peningkatan kepopuleran program televisi mengenai spiritualitas sejak tahun 1995 hinggan 2008.

Yumiyama Sensei juga menjelaskan peningkatan fenomena spiritualitas melalui peningkatan pencarian kata kunci spiritualitas di Internet dari awal tahun 2000an hingga 2008 sebagai puncaknya sebelum akhirnya menurun. Yumiyama Sensei menceritakan juga banyaknya kegiatan atau pertemuan orang-orang yang tertarik dalam spiritualitas, semacam konseling ataupun grup diskusi. Ada fenomena baru mengenai berbagai layanan spiritualitas untuk orang-orang yang yang merasa sengsara dalam hidupnya. Mereka berani bayar relatif mahal untuk mendapatkan layanan yang mampu membuat hati atau spiritualnya tentram.

Menurut penelitian Yumiyama Sensei, seiring turunnya kepopuleran spiritualitas ada fenomena baru meningkatnya kepercayaaan terhadap powerspot atau tempat-tempat keramat. Popularitas powerspot ini meningkat terus hingga akhir-akhir tahun ini. Hampir di seluruh Jepang diperkenalkan tempat-tempat keramat baik lewat acara televisi maupun juga oleh pemerintah-pemerintah daerah. Bahkan menurut beliau di kampus Titech ini juga ada power-spotnya.

Yumiyama menjelaskan sejak tahun 2010-an banyak perusahaan-perusahaan besar, seperti Google, Intel, memperkenalkan pelatihan-pelatihan mengenai meditasi, yoga dan lain-lain bagi karyawannya. Sejak tahun 2011 setelah peristiwa bencana alam gempa dan tsunami muncul fenomena yaitu pergeseran ketertarikan masyarakat Jepang dari religiusitas yang bersifat individu kedalam ketertarikan terhadap religiusitas yang lebih luas, ketertarikan terhadap jinja (tempat ibadah Shinto), otera (tempat ibadah Budha). Terutama ketertarikan terhadap penjelasan kehidupan setelah mati seperti reinkarnasi dan lain-lain.

Munculnya religiusitas dalam lingkup yang lebih besar tersebut, beliau sinyalir karena adanya banyak orang yang merasakan banyaknya orang termasuk keluarganya sendiri yang meninggal akibat bencana gempa bumi dan tsunami tersebut. Ini mendorong orang-orang Jepang memikirkan bagaimana menangani tubuh orang-orang yang meninggal lagi. Lebih jauh lagi mereka memikirkan bagaimana sebenarnya yang akan terjadi terhadap orang-orang yang meninggal. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang jawabannya bisa didapatkan dalam perangkat kepercayaan atau agama.

Pemaparan yang dilakukan narasumber keempat insyaAllah karena satu dua hal akan penulis tulis di lain kesempatan.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s